Senin, 11 Januari 2021

Kidung Agung 8:6-7


PROPOSAL SKRIPSI
“PRESFEKTIF PERKAWINAN DALAM KIDUNG AGUNG 8:6-7
DAN FENOMENA CINTA DI KALANGAN KAUM MUDA-MUDI”

METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL
DOSEN PENGAMPUH: Pdt.Dr.R. Helweldery, M.Si






Di susun oleh
RENSY NANLOHY
NIM: 16-10-379
PRODI: TEOLOGI
SEMESTER VI





SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA GPI PAPUA FAKFAK
2019





BAB I
LATAR BELAKANG

Dalam kitab bangsa Israel, yang kita kenal dengan kitab Perjanjian Lama, Kitab Kidung Agung disebut Shir Hashshirim (Kid 1:1). Secara harafiah, Shir Hashshirim berarti “nyanyian yang melebihi segala nyanyian” atau “nyanyian di atas segala nyanyian”. Kitab Kidung Agung merupakan kitab pertama dari kelima Gulungan (Megillot: Kidung Agung, Rut, Pengkhotbah, Ratapan, Ester). Kidung Agung dibaca pada hari raya Paskah. Dengan maksud untuk merayakan perjanjian kasih Allah. Pada waktu pelepasan umat Israel dari perbudakan di Mesir dan YHWH mengaruniakan kepada mereka suatu bayangan tentang “negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel 3:8,17). 
Kidung Agung juga dikenal dengan kitab yang berisikan lagu cinta atau puisi cinta antara seorang pria dan seorang wanita yang sedang jatuh cinta dan menghadapi pernikahannya. Banyak kata-kata dalam kitab ini bersifat mengungkapkan perasaan adanya kegairahan, nafsu, adanya naluri dengan jiwa dan penuh kasih yang dibuat-buat; cinta yang berlimpah-limpah dengan kecantikannya dan menekankan hal-hal indah dan romantis yang ditunjukan dengan keadaan alam, seperti musim. Juga digambarkan dengan berbagai macam perhiasan, berdasarkan daya khayal pengarang.
Realita yang terjadi adalah di dunia modern ini, kata “Cinta” itu tersebar luas diberbagai media massa. Dan kata ini merupakan kata yang paling banyak diucapkan dalam kebudayaan hiburan populer. Dengan populernya kata cinta, terlihatlah bahaya bahwa arti cinta dipermiskin, dipermurah dalam kisah-kisah roman picisan atau slogan-slogan erotis atau praktek-praktek free love, yang menjadi komsumsi kaum muda-mudi di banyak tempat. Banyak orang mengartikan cinta seperti permainan, nafsu birahi yang ditonjolkan didalamnya. Seolah-olah belum benar-benar cinta kalau belum berciuman atau bahkan melakukan hubungan badan. Mereka lupa bahwa cinta sejati itu tidak perna meminta balasan.   
Dalam kitab Kidung Agung, khususnya pada pasal 8:6-7, menggambarkan betapa suci dan berharganya cinta, sehingga cinta tidak dapat diperdagangkan. Tetapi banyak muda-mudi yang salah mengartikan makna cinta sesungguhnya. Akibatnya, sekarang  mereka terseret kedalam pergaulan bebas, menganggap pacaran sebagai suatu budaya. Pacaran menjadi satu cara untuk menuangkan rasa cinta kepada kekasih. Banyak muda-mudi yang mengatasnamakan cinta sehingga melupakan batasan-batasan yang digariskan agama, tak jarang mereka terjerumus ke jurang perzinahan, karena tidak bisa mengendalikan diri. Akhirnya hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan menghancurkan masa depan mereka sendiri. Kata cinta yang harus dijaga kesuciannya kemudian menjadi ternoda akibat pergaulan bebas yang dituangkan dalam hubungan seks. 
Kata'cinta' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti "suka sekali; saying benar, seperti sayang orang tua kepada anaknya, sayang ke semua makhluk; kasih sekali terpikat: antara laki-laki dan perempuan. Dalam buku karangan Frans Dahler dan Julius Chandra yaitu Asal dan tujuan manusia" ada beberapa kutipan tentang cinta oleh beberapa ahli seperti Teilhard, Solovjev, dan Jose Ortegay Gasset. Menurut Teilhard, puncak kesadaran manusia adalahcinta. Cinta adalah daya kosmis yang paling universal dan misterius. Filsuf Rusia, Solovjev, berkata dalarn bukunya "Makna Cinta": jika seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis secara serius, ia terlempar keluar dari cinta dirinya sendiri. Ia mulai hidup untuk orang lain. Penyerahan batin ini digambarkan pula secara indah oleh William Shakespeare dalam  kisah cinta Romea and Juliet. Seakan-akan pecinta kchilangan diri tetapi sebenarnya justru disinilah ia menemukan diri. Jika ia tidak menerima dan member cinta, ia akan tetap tinggal sendiri.   Menurut seorang Jose Ortegay Ciasset dalam bukunya "On Love, ia mengatakan bahwa seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek dari cintanya. Persatuan ini bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya Si pecinta tidak akan kehilangan pribadinya dalam cinta tersebut, malahan pribadinya akan diperkaya.
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
Idealnya adalah kaum muda harus mampu memahami arti cinta yang sebenarnya sehingga dapat dipraktekan dengan tepat. 

RUMUSAN MASALAH
Bertolak dari latar belakang diatas, maka peneliti berfokus pada masalah pokok, yakni pandangan Alkitab tentang kesucian cinta, khususnya dalam kitab kidung Agung 8:6-7.
Bagaimana praktek cinta yang di terapkan muda-mudi?
Cinta yang sebenarnya dipraktekan seperti apa?
Apa itu cinta menurut kitab Kidung Agung?
Bagaimana cara menghargai arti kata cinta dalam kitab Kidung Agung?

TUJUAN PENILITIAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui
Mendiskripsikan praktek cinta yang di terapkan muda-mudi !
Mendiskripsikan dan menjelaskan cara praktek cinta yang sebenarnya !
Mendiskripsikan dan menjelaskan arti cinta dalam kitab Kidung Agung !
Mendiskripsikan dan menjelaskan cara menghargai arti kata cinta dalam kitab Kidung Agung

MANFAAT PENULISAN
Secara teoritis
Dengan adanya penulisan ini diharapkan penulis dan pembaca dapat memahami arti cinta dalam pandangan Alkitab.
Secara praktis
Dengan adanya penulisan ini diharapkan penulis dan pembaca, mengetahui cara praktek cinta yang seharusnya dalam kaum muda-mudi, sehingga tidak melewati batas-batas atau norma-norma yang ada.




RUANG LINGKUP 
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas tentang Kidung Agung 8:6-7 secara eksegetis, tentang cinta. Namun penulis memfokuskan pembahasan pada pengertian dan praktek yang sebenarnya. Untuk melengkapi sehingga lebih valid, penulis akan melakukan studi literature.
METODE PENULISAN
Penulisan ini didasarkan pada peniltian kepustakaan sedangkan metode penulisan yang digunakanadalah metode analisis deskriptif serta eksegetis. Analitis artinya penulis, penulis menganalisa, menguraikan suatu pokok atas berbagai bagiannya dan  penelaah bagian itu sendiri serta hubungan antara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. 
Dikatakan deskriptif ialah karena penulis akan membahas akibat yang sedang terjadi atau keadaan yang sedang berkembang. Dikatakan eksegetis artinya menggali, menjelaskan maksud para penulis kitab suci dalam konteks aslinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar